Curi Sawit Senilai Rp 76 Ribu Buat Beli Beras, Ibu 3 Anak di Riau Diperkarakan

  • Bagikan

Rica (31), ibu tiga anak, baru saja mengintip ke bawah. Air matanya seolah menumpahkan siksaan yang dirasakan di hatinya.

Pada Selasa malam (2/6) kemarin, perempuan pengangguran itu harus melalui proses persidangan mendasar di Pengadilan Negeri Rokan Hulu, Riau. Ia perlu menghadapi interaksi disiplin karena disalahkan karena mengambil tiga lot produk organik kelapa sawit di organisasi milik negara PTPN V Pekanbaru di Rokan Hulu.

Rika tidak menyangka perampokan 3 lot minyak sawit itu membawa permulaan. Demonstrasi yang dia lakukan karena merasa kesal melihat anak-anaknya menangis karena kelaparan. Kemudian, nasi di dapur tidak dapat diakses saat ini.

“Sekitar waktu itu saya tidak ditahan, warga dan Pak RT kali ini menskors saya. Saya juga terpaksa mengambil atau mengambil produk organik untuk membeli beras Pak,” kata Rika, Rabu (3/6).

Debut awal Rica diadakan setelah situasi yang diduga sebagai demonstrasi kriminal ringan atas pembobolan produk organik kelapa sawit di Kepolisian Tandun pada tanggal 31 Mei 2020, dan kemudian dilanjutkan dengan otorisasi undang-undang. Nilai yang diambil tidak lebih dari Rp. 76 ribu, sesuai berat bungkusan sawit.

Rica mengaku telah mengambil atau mengambil hasil alam kelapa sawit dari PTPN V di Sei Rokan. Harapan satu-satunya adalah membeli bra. Jadi dia mengakui bahwa dia perlu melakukannya agar ketiga anaknya yang berusia di bawah 5 tahun tidak kelaparan.

Karena tak mungkin ada, saat ini ada nasi di rumahnya, sementara saluran pencernaan di perut anak-anak itu berkerut karena lapar. Selain itu, kondisinya saat ini ada pada Covid Disease 2019 atau maraknya Coronavirus.

Pada jam episode, Rica mengaku ditangkap oleh petugas keamanan PTPN V. Meski meminta pengampunan dan kesengsaraan, namun ia belum dibawa oleh petugas keamanan PTPN V Sei Rokan ke Polsek Tandun.

Polisi juga dengan lembut mengakui laporan tersebut. Karena laporan dari organisasi yang diklaim otoritas publik, Rika akhirnya duduk sebagai tahanan di tahap awal.

Tidak Ada Bantuan Administrasi

Rica, yang tinggal di rumah kontrakan di Langgak, Kota Koto Tandun, Kabupaten Tandun, yakin Pemerintah Rezim Rokan Hulu akan fokus pada penghuninya yang benar-benar membutuhkan bantuan. Sedikit sekali, ia hanya ingin ditawari nasi untuk dimakan anak-anaknya.

Rica mengaku tidak pernah mendapat bantuan dari Pemerintah Rezim Rokan Hulu, hanya sebagai bantuan dari virus Corona. Orang penting lainnya tidak tinggal bersama Rica, karena dia pergi bekerja di ruang lain cukup lama di kamar anak orang lain.

“Saya terkekang, supaya anak-anak saya tidak kelaparan. Orang penting saya mandah (mau kerja). Itu sebabnya saya mengambil produk bahan alam sawit PTPN V Sei Rokan, untuk membeli beras kami. Saya tidak menyadari bahwa itu bisa berakhir seperti ini, “katanya.

Kemudian Kapolres Rokan Hulu AKBP Dasmin Ginting saat dihubungi merdeka.com tidak bereaksi. Senada dengan itu, PTPN Pekanbaru, belum menerima penegasan dari koresponden.

  • Bagikan